Senin, 18 Januari 2016

Khitbah Cinta






  Semangat pagi untuk dunia dan seisinya, selamat pagi Allah. Karena-Mu aku dipagi hari, dan karena-Mu aku disore hari. Karena-Mu aku hidup, dan karena-Mu aku mati. Semangat pagi diwaktu Dhuha . Kudapati hawa segar dan asri ketika aku membuka pintu dan kutemui beberapa tanaman hias yang berjejer rapi didepan teras rumahku, seolah mereka  tersenyum dan mengucapkan salam “ Selamat pagi Nita J.
 Tak lama, terdengar suara khas mesin motor tua milik bapakku. Bapak yang baru saja pulang mengantar adik pergi kesekolah datang membawa sesuatu. Sedangkan aku sudah siap  memulai aktifitas hari ini, menjemput rejeki yang datang dari berbagai arah. Dari langit, dari bumi, dari dekat dan jauh, dari depan maupun belakangku.
 “ Nita berangkat kerja dulu ya pak..” Aku memohon ridha bapak sebelum bekerja dengan bersalaman dan mencium tangannya.
“ Iya nak, hati – hati dijalan. Oh iya bapak tadi beli bubur buat sarapan. Nanti jangan lupa dimakan ya..” bapak memberiku beberapa donat bertabur gula halus dan  sebungkus bubur sayur tumpang ( sayur tahu pedas  bersantan dengan bumbu kuning yang kental).
“ Terimakasih bapak..” kuambil bungkusan plastik hitam itu dan segera kumasukkan kedalam tas. Sebenarnya hari ini aku sedang berpuasa namun aku tidak mau menolak pemberian bapak yang sudah sengaja membelikan sarapan dan camilan untukku. Aku takut membuat bapak kecewa. Segera kukayuh siputih, dua roda berputar, kedua tangan menjaga keseimbangan, dengan perlahan aku meninggalkan rumahku yang sederhana dan berantakan tapi selalu menimbulkan rasa rindu bersama seisi ruangnya.
Di sepanjang perjalanan, aku teringat dengan mimpi yang membuat sesak dadaku. Tentang dua orang pria yang sama – sama membuatku gelisah. Zidan dan laki – laki asing yang telah menikahiku didalam mimpi. Ada sebuah ketenangan batin tersendiri. Zidan?? Dia sama sekali tidak memberikan kabar kepadaku. Hemm mungkin Allah menginginkan aku untuk lebih dekat dengan-Nya. Jika aku dan Zidan berjodoh pasti kami akan dipersatukan kembali dengan cara dan ridha dari Allah sendiri. “Berhenti untuk memikirkan Zidan yang tiada kejelasan dan kepastiannya. Lebih baik memikirkan sesuatu yang pasti saja” aku bergumam didalam hati.
Mataku mengarah pada suatu pemandangan, seorang bapak yang sudah lanjut usia sedang duduk didalam becak tuanya. Aku tidak merasa asing dangan sosok itu. Beliau adalah tukang becak langganan almarhum nenekku. Aku masih ingat ketika aku duduk dibangku SMP,  bapak ini yang selalu mengantar kami mengelilingi pasar.
Subhanallah... hebatnya bapak ini, dengan mengandalkan kekuatan kakinya mampu menopang hidup sampai saat ini. Tubuhnya masih tetap kurus hanya rambutnya kini berubah warna. Aku teringat dengan bungkusan yang berada ditasku. Bubur sayur Tumpang dan beberapa donat pemberian bapakku. Ada yang berbisik,” kenapa tidak kau berikan saja bungkusan itu kepada bapak tukang becak itu??”
Hemm, akhirnya aku berhenti dan memberikan bungkusan itu kepada bapak tukang becak. Hati kecilku berdoa “ Ya Allah aku jadi rindu kepada nenekku. Nenek yang gemar membagi rejeki dan memberikan oleh – oleh untuk anak dan cucunya. Sayangnya aku belum bisa memberi banyak balasan untuk nenek. Mudah – mudahan Engkau yang akan membalas semua kebaikannnya. Aamiin
                                                                        ***                                                           
Akhirnya rekapitulasi faktur pajak telah berhasil kuselesaikan dengan meninggalkan sedikit rasa pusing dan lelah. Sekarang waktunya pulang, perangkat komputer segera ku matikan lalu ku hampiri siputih. Siputih inilah benda titipan Allah yang paling setia menemaniku, ia berhasil kudapat dari cucuran keringatku. Hemm, Alhamdulillah.. siputih banyak membantuku, dia selalu mengantar ke semua tempat yang aku mau. Ketika diperjalanan, sering aku mengajak bicara dengan siputih. Aku ingin bersamanya sampai nanti, sampai diakhirat bila perlu. Hehehe.. siapa tau disurga nanti ada sepeda kayuhku??? Berkhayal.
Rintik – rintik air dari langit gelap mengisahkan hari ini tentang peristiwa hujan. Tapi entah mengapa aku begitu bahagia jika musim penghujan ini datang. Terkadang aku sedikit membela hujan ketika aku mendengar suara – suara keluhan karena hujan. Sebagian besar ada pula yang menganggap hujan sebagai momok yang menyeramkan. Apalagi untuk mereka yang selalu kedatangan banjir dimusim penghujan. Hemm.. Memang manusia adalah makhluk paling juara untuk berkeluh kesah. Panas sedikit mengeluh, hujan sedikit mengeluh, banyak mengeluh, sedikit mengeluh. Repot juga yaaa
Benarlah sabda Rasulullah saw,Berkunjunglah dengan jarang, niscaya engkau akan menambah kecintaan.”  Seperti halnya kisah hujan, datangnya dirindukan. Namun bumi akan merasa jenuh jika hujan selalu mengguyurnya setiap saat.  Lebih baik berprasangka baik saja ketika hujan turun, karena hujanpun merupakan salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa. J Allahumma shayyiban naafi’an. “ Ya ALLAH, biar turun hujan membawa manfaat.” Aamiin
Sebelum kembali kerumah, aku menyempatkan diri mengunjungi Masjid yang indah nan megah untuk melaksanakan sholat jamaah Isya disana. Masjid  At-Taqwa yang terletak dalam satu lokasi kampus serta dekat dengan alun – alun ini, menjadi tempat yang ramai dan selalu dikunjungi oleh banyak orang. Mulai dari masuknya waktu Dhuha hingga menjelang Maghrib, entah mereka para mahasiswa, atau para keluarga yang tengah berlibur dan menghabiskan waktu di alun – alun kemudian menunaikan kewajibannya di Masjid AT-Taqwa.
 Lantunan adzan yang dikumandangkan mas Yusuf begitu merdu memanggilku, semakin kuat aku mengayuh siputih. Alhamdulillah... belum terlambat, segera aku menuju tempat wudhu wanita untuk menyucikan hadast kecilku. Anak tangga satu persatu ku lewati sampailah aku pada lantai paling atas tempat dimana para kaum hawa merapatkan barisan sholatnya. Dengan nafas tak teratur aku menjawab kalimah – kalimah adzan. Allahu Akbar... Allahu Akbar... Laa ilaahailallahu...
Kupandangi setiap sudut masjid nampak sepi dan sunyi. Mungkin orang saat ini lebih memilih sholat dirumah dari pada di Masjid, karena hujan datang lebih lebat tak seperti biasanya. Hanya ada seorang ibu yang sedang melaksanakan sholat sunnah. Adzan iqomah berkumandang, tanpa berlama - lama aku merapatkan barisan dengan ibu tersebut. Wajahnya bersih dan cantik meskipun sudah termakan usia. Assalamu’alaikum ibu...” aku menyapa dan mencium tangannya. Ku lirik barisan kaum adam, Alhamdulillah cukup banyak ketimbang kami berdua saja si kaum hawa. Tak mengapa, bukankha yang lebih utama sholat berjamaah di masjid ialah mereka para kaum adam??
Suara hujan dan aroma basahnya masih sangat kuat  kurasa, dingin menyelimuti tubuhku. Ku tutup pintu Masjid, tinggalah aku seorang diri. Aku memperbanyak doa dan istighfar, ku dekap tubuhku dengan kedua tangan. Aku  mendengar suara langkah kaki mendekat, pasti mas Yusuf akan mematikan lampu Masjid. Namun ketika ia melihatku, ia melangkah pergi dan membiarkan lampu tetap  menyala.
Mas Yusuf  adalah seorang takmir masjid, tepatnya Masjid At-Taqwa ini. Dia juga mahasiswa ditempatku menimba ilmu. Kami pernah bersua sebentar ketika aku meminjam charger ketika handphone ku mati sementara aku sedang membutuhkannya karena ada keperluan yang cukup penting. Dia mahasiswa semester 7 dan ia sedang sibuk menyelesaikan tugas KKN (Kuliah Kerja Nyata).  Aku tau dia adalah mahasiswa yang cerdas, wajar jika para dosen sering mencarinya untuk sebuah kepentingan.
Sedangkan aku hanyalah seorang mahasiswa ekstensi yang tidak setiap hari mendapatkan asupan ilmu. Kelas ekstensi lebih sering dikenal dengan kuliah sore. Kelas Ekstensi diperuntukan bagi  mahasiswa yang sudah bekerja. Termasuk juga diriku, mahasiswa ekstensi harus pandai membagi waktu belajar dengan waktu bekerja. Jangan ditanya bagaimana kelelahan kami? sudah pasti sangat menguras energi. Justru dengan ini, kami terlatih untuk mandiri dan mengenal tanggung jawab.
Aku bersyukur karena diberikan kesempatan Allah untuk menghirup harum bau perkuliahan. Dulu setelah lulus dari bangku SMA aku harus bekerja dan menabung untuk biaya kuliahku, dua tahun berikutnya barulah aku bisa melanjutkan kuliah. Meskipun sedikit terlambat, keadaan ini tidak mematahkan semangatku untuk belajar. Menuntut ilmu tidak mengenal usia, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi seorang muslim. Nikmat rasanya mencapai tujuan dengan jerih payah sendiri. Ya… begitulah aku, jika aku punya satu titik tujuan, bagaimanapun caranya aku harus bisa meraihnya.
Alhamdulillah.., hujan mulai reda, meskipun masih gerimis aku harus segera pulang karena pasti ibu sudah menunggu dirumah. Sebelum meninggalkan Masjid tak lupa aku mematikan lampu, jadi mas Yusuf tak perlu naik turun tangga hanya sekedar mematikanya. Terimakasih Allah sudah diperkenankan berteduh ditempat yang indah. J
Disepanjang perjalanan mulut ini bergeming, berdoa diantara gerimis  yang lembut. Ada kenikmatan tersendiri ketika dinginnnya malam dan air menyatu mengena lapisan kulitku. Tak terasa air mata ikut bercampur, luruh bersama air hujan. Ku memohon ampunan dan hajatku diantara hujan yang mereda.
Tak terasa aku sudah memasuki gang sempit yang jalannya penuh dengan batu kerikil karena aus dan rusak termakan waktu. Aku harus lebih berhati – hati memasuki gang tikus yang licin itu karena lumut yang basah siap menggelincirkan roda siputih. Dengan jitu ku menghindari banyak kubangan dan jalan licin. Alamdulillah, sampai juga dirumah. Senyum ibu menjadi penawar rasa lelahku, menjadi penghangat dari dinginnya malam yang sedari tadi tak juga mau pergi dari tubuhku.
***
Mentari begitu sumringah menampakkan senyum terhangatnya, secerah wajahku dan seseumringah senyumku pagi ini yang membuat pipiku sedikit merona karena terkena silauan mentari. Hemm biasnya indah, suasana yang sangat berbeda dari semalam. Apalagi hari ini adalah hari favoritku.
Hari ini adalah hari Jumat hari dimana kita bisa mendapatkan banyak kebaikan didalamnya. Hari dimana menjadi hari raya bagi kita dan bagi kaum muslimin setelah kita. Dan yang didalam hari Jumat sendiri ada satu kesempatan waktu, jika ada seorang hamba muslim berdoa bertepatan dengan waktu tersebut, untuk urusan dunia dan akhiratnya, dan itu menjadi jatahnya didunia, maka pasti Allah akan mengabulkan doanya. Jika itu bukan jatahnya, maka Allah simpan untuknya dengan wujud yang paling baik dari perkara yang dia minta, atau dia dilindungi dan dihindarkan dari keburukan yang ditakdirkan untuk menimpanya, yang nilainya lebih besar dibandingkan doanya
Hari dimana meninggalnya Nabi Adam Saw , hari dimana aku selalu diingatkan kembali dengan hari akhir, hari pertama sangkakala akan ditiupakan, pada hari itu pula tiupan kedua akan ditiupkan. Hari dimana para kaum adam diwajibkan untuk melaksanakan sholat Jamaah dimasjid, berlomba mencari pahala sedekah yang akan didapatnya mulai dari sebutir telur sampai dengan seekor unta. Hari dimana banyak waktu mustajab untuk berdoa, sungguh hari Jumat adalah istimewa.Wallahu’alam...
Kuawali hari Jumat pagi dengan berkunjung ke Kantor Urusan Agama (KUA). Kedatanganku disana bukan untuk menyelesaikan perkara pernikahan yang indah nian katanya, melainkan untuk menemui seorang guru ngaji yang berkerja sebagai penyuluh agama. Setiap hari Jumat aku selalu mengaji di mushola bersama bu Maryam. Jika kami sedikit bosan dengan suasana KUA, kami sering mencari suasana baru seperti diPerpustakaan Kota, diTaman Kota, di Masjid At.-Taqwa, dan digubuk sawah. Menyenangkan belajar bersama beliau karena banyak hal yang sering kita bicarakan bukan hanya membaca Al Qur’an saja.
Aku sangat terbuka dengan bu Maryam, aku tidak merasa canggung dan malu menceritakan segala persoalanku dengannya. Begitu pula dengan bu Maryam, beliau begitu sabar membimbing dan memberikan ilmu yang tak ku temui di bangku perkuliahan, lebih kepada ilmu kehidupan nyata.
Pertemuan ku dengan bu Maryam kali ini terasa menyesakkan nafasku. Beliau menyampaikan bahwa ada seorang pria yang ingin mengkithbah ku. Padahal bu Maryam sangat tau bagaimana perasaanku terhadap Zidan. Beberapa kali bu Maryam mencoba membantuku dengan sholat Istikharah. Beliau menganjurkan untuk menjauhi Zidan, karena bu Maryam mendapatinya dalam mimpi, menampakkan bahu dan berbalik arah.
Entahlah.. hati dan pikiranku kalut. Memang benar adanya Zidan menghilang begitu saja. Bahkan saat ini aku tak tahu bagaimana kabarnya. Aku terlalu setia menunggu dan memberi pagar hati sampai aku tidak bisa menerima kehadiran pria lain yang ingin mengambil hatiku. Sudah berapa pria yang ku tolak kehadirannya dalam hidupku.  Lalu bagaimana dengan tawaran kithbah itu sendiri?? Apa bisa aku menolak tawaran bu Maryam??
Sesampainya dirumah aku menceritakan semua kepada ibuku. Ibuku yang penuh degan kasih sayang menanggapinya dengan kegembiraan. Ibu menyarankan aku untuk meminta petunjuk kepada Allah melalui sholat Istikharah. Kata ibu, sholat itu adalah salah satu ikhtiar bagi kaum wanita dalam memutuskan suatu hal bukan mencari cinta.
Semakin hari aku merasa semakin ingin mengetahui pria itu. Dia berhasil mengalihkan perhatianku dari Zidan. Ia berhasil merubahku semakin dekat dengan Allah walaupun kami belum pernah menyapa dan bertatap muka. Ia berhasil menimbulkan kerinduan untuk segera bertemu. Ku beranikan diri menanyakan hal ini kepada bu Maryam. Bu Maryam begitu semangat mendengar tanggapanku untuk mengenalnya.
Lusa di kantor kecamatan ada acara Kursus Pra Nikah, dan aku menjadi tamu disana.. Disana aku akan mengetahui siapa pria yang ingin mengkithbah ku. Dia menjadi moderator diskusi. Aku menyanggupi hadir. Insyaallah..
***
          Pukul 08:30 acara dimulai, jantungku berdegup kencang. Aku duduk dibarisan paling belakang. Sampailah pada perkenalan orang – orang yang terlibat pada kegiatan tersebut. Aku tak berani menatap kedepan, wajahku tertunduk lesu. Sampai nama selaku moderator disebutkan “ Yusuf  Firmansyah”

         “Subhanallah mas Yusuf.. mas Yusuf yang selalu menunggu aku di Masjid At-Taqwa itu?? Apa tidak salah dengar aku??” ku beranikan mengangkat wajahku dan melihat apakah benar dia Yusuf Firmansyah yang aku kenal itu. “Allahu akbar benar dia orangnya..” air mataku meleleh tak menyangka bahwa orang itu adalah mas Yusuf. Namanya mengingatkan aku kepada Nabi Yusuf yang dikenal sebagai Nabi sholeh yang mempunyai wajah teramat rupawan sampai Zulaika yang jelita tergoda dan ingin memiliknya.
           Jujur saja, selama ini memang aku mengaguminya. Namun aku merasa tak pantas jika bersanding dengannya. Perempuan mana yang tak jatuh hati dengan penghafal Al Qur’an yang  cerdas dan rupawan. Aku mencubit tanganku sendiri, “ awww.. sakit..” ternyata ini bukanlah mimpi.
           Setelah acara selesai aku segera menemui bu Maryam. Beliau bercerita kepadaku, selama ini mas Yusuf selalu memperhatikanku, baik ketika aku kuliah maupun kegiatanku diluar. Suatu hari ketika aku dan ibu Maryam mengaji di Masjid At-Taqwa, mas Yusuf melihat kedekatan kami. Dan kebetulan ayah dari mas Yusuf adalah kerabat dari ibu Maryam. Lantas mas Yusuf menemui ibu Maryam dan mengutarakan niat untuk mengkhitbah dan jika aku menerima ia akan segera melamar secara resmi.
            Ibu Maryam memberikan kesempatan kepada kami untuk bertemu. Dadaku berdesir tiada henti, lidahku kelu. Kami berjanji akan bertemu ditaman Perpustakaan Daerah. Aku duduk dibangku kayu panjang yang diiringi suara air mengalir kolam, sungguh menambah semilir dihati.
Assalamu’alaikum ukhti Wanita Kirana..” mas Yusuf menyapaku.

Wa’alaikum salam Wr Wb akhi Yusuf Firmanyah” aku menunduk tak berani melihat apalagi menatap matanya.

Kaifa haluki?” (bagaimana kabarmu?)

Bi khoir, walhamdulillahirabbil’alamin.. wa kaifa haluka anta?” (baik – baik saja, segala Puji bagi Allah.. kamu sendiri??)

Alhamdulillah, ana bi khoir.. sahhalallah lanal khaira haitsuma kunna..” (alhamdulillah, aku baik.. semoga Allah mudahkan kita dalam kebaikan dimanapun kita berada..)

Aamiin Ya Rabb..”

“ Nita.. Kenapa nama kamu Wanita Kirana?? Kenapa bukan Pria Kirana saja??” mas Yusuf  mencoba menyegarkan suasana, sepertinya ia tau kalau aku sedang gugup.

“Mas Yusuf bisa saja. Aku sendiri kurang tau mas..” ia berhasil membuatku tersenyum.

“ Kalau tidak keberatan aku mau menanyakan arti nama itu kepada orang tuamu, juga menanyakan hal lain tentangmu”

“Ada – ada saja mas ini, memangnya mas ingin menanyakan apa??"

“ Rahasia.. ba’da Isya’ aku dan keluarga kerumah ukhti ya..”

“Bo.. boleh mas Yusuf jika hanya sekedar untuk bersilaturahmi..”

“ Ya sudah, sebaiknya kita pulang.. jangan lupa shalat.”

Injeh mas Yusuf, tidak akan lupa.. aku pamit, assalamu’alaikum.."

wa’alaikum salam wr wb..”

           Ba’da Isya’  Mas Yusuf dan keluarga datang bersama bu Maryam, mereka mengutarakan niat untuk mengkithbahku. Dengan menyebut nama Allah aku terima khitbah (pinangan) nya. Bulan berikutnya mas Yusuf melamarku secara resmi, kami akan menikah setelah mas Yusuf diwisuda, 6 bulan lagi. Alhamdulillah.. aku dikaruniakan lelaki sholeh seperti mas Yusuf, semoga segala urusan dan niat baik dimudahkan jalannya oleh Allah swt.. aamiin


Tenanglah wahai jiwa yang kesepian..
 Semua kan indah pada waktunya...
 Kithbah cinta menjawab semua tanya...   
Sakinah bersama pilihanNya...


Salatiga, 18 January 2016

Lelaki Asing


Aku tak menyangka ternyata aku telah dipilih seorang lelaki untuk menjadi pendamping hidupnya. Kini aku telah menikah. Sedikit aneh memang sebab aku tak mengenal siapa lelaki itu, bahkan nama lengkapnya saja aku tak tahu, retina mataku belum pernah menangkap bayang wajahnya dengan jelas, suaranya tak pernah ku hafal digendang telinga, apalagi dengan perasaan itu sungguh sama sekali aku tidak mencintainya.

Berbeda dari pernikahan – pernikahan yang sering aku lihat dibanyak tempat. Kemewahan dengan berbagai rupa dan warna, berhiaskan janur kuning melengkung dan dekorasi bunga - bunga, kebaya mewah melilit tubuh, sanggul konde kreasi penuh dengan hiasan kuningan dan melati, make up tebal, kening penuh dengan pidih berwarna hitam. Raja dan ratu sehari duduk berdua mendapat ucapan doa dari sanak saudara dan para tamu undangan yang datang. Sedangkan aku? Aku tidak tergores warna sedikitpun.

Tak kudapati dipan – dipan mewah dan bunga warna – warni. Hanya kerudung coklat polos syar’i yang kukenakan menutup hitam rambutku. Tak ada suara dan dendangan lagu, sunyi dan tenang. Pernikahanku memang sangat sederhana, namun aku merasa betapa ini adalah sebuah peribadahan yang sesungguhnya bukan hanya sekedar pesta pora dan bentuk bermegah - megahan. Benarkah ini pernikahanku? aku masih belum percaya.

Dikerumunan para saksi dan orang tua kami, lelaki itu berikrar mengatakan sebuah janji suci. Yang aku lakukan hanyalah diam diri. Bukankah disamping lelaki itu ada sosok wanita cantik yang mengharap dialah yang akan dipilh bukan diriku. wanita itu menangis pilu. Proses pernikahan sederhana inipun telah selesai, ku beranikan diri untuk menengok lelaki asing itu.Lelaki yang telah merebut masa lajangku. Lelaki yang berani mengucapkan ijab qobul, laki – laki yang menghancurkan semua angan dan cita cintaku bersama Zidan.

Mataku pun tertuju pada sosok berkulit sawo matang yang mengenakan jas hitam berpeci itu. Kudapati mata yang teduh dan senyum tulus darinya, kamipun saling bertatapan dalam kejauhan. Tak henti – hentinya ia menatapku, seolah ia mengagumiku. Namun aku menahan bibirku untuk bungkam dan tak membalas senyumnya. Dengan segera aku memalingkan wajah dari pandangannya. Lelaki itu berjalan seperti mengikutiku, entah apa yang ia inginkan dariku. Sekali lagi aku menoleh kepalaku. Lagi – lagi ia menatapku dengan mata teduh dan senyum yang tulus.

Tanpa keraguan ku palingkan wajahku dari pandangannya kembali.Benarkah dia adalah suamiku?? Direlung hati yang paling dalam, aku begitu mencintai Zidan. Zidan adalah satu – satunya lelaki yang paling dekat denganku. Hubungan tiada restu ini telah kujalin bersamanya lebih dari empat tahun yang lalu. Zidan tidak mengetahui hal ini, dan sungguh aku tidak ingin dia tahu karena aku tidak ingin membuat Zidan kecewa dan menjauh dariku. Memang akhir – akhir ini hubunganku dengan Zidan tak begitu baik. Banyak sekali perselisihan dan beda pendapat diantara kami. Yang hanya menambah perasaan gelisah dan takut untuk kehilangan dirinya. Tapi lagi – lagi aku yang harus mengalah dan mencoba untuk merajuknya. Mendapatkan perhatian dari seorang Zidan yang begitu aku cinta.

Dimataku Zidan adalah seorang yang istimewa dan berbeda dari pria lain. Dia bukan type lalaki genit yang selalu menggoda wanita. Dia mengajariku banyak hal tentang kehidupan, tentang keluarga dan kesetiaan, tentang kesederhanaan dan dermawan. Hanya saja prioritas terhadap keluarganya itu membuat perhatianku banyak tersita olehnya. Aku bangga dengan lealki yang mencintai keluarganya, mungkin Zidan adalah tulang punggung bagi keluarganya. Rasa tanggung jawab dan kewibawaan, menampakkan jiwa ksatrianya. Tapi bagaimana dengan masa depanku? Yang setiap detik dan waktu mereka berlalu menambahkan usiaku. Para sahabatku sudah menggendong anak dan berkasih cinta dengan suatu keberkahan yang luar biasa, sedangkan aku? Aku selalu menambah dosa dengan berbagai macam hal dan perkara.

Tak ada warna lampu lain selain warna merah. Empat tahun hanya berhenti untuk menunggu lampu hijau menyala. Menunggu sebuah kepastian yang tak kunjung kudapati sampai aku merasa cukup lelah dengan keadaan ini. Demi cinta, aku tak ingin tubuhku disentuh oleh siapapun termasuk dia!!! Seorang yang telah menikahiku. Setelah acara ijab qobul selesai semua para tamu undangan dan keluarga meninggalkanku. Ya Allah apakah aku mampu menjalani ini? Laki – laki ini memang terlihat sangat sederhana.

Nampak dari tempat tinggal dan segala isi yang tak terlihat tanda kemewahan. Dia juga bukan pria yang tampan yang selalu tampil bersih dan wangi, namun dia adalah makhluk Allah yang semprna tanpa cacat tubuhnya. Iya.. benar memang selama ini aku tidak begitu mencintai kekayaan dan ketampanan dalam mencari pasangan. Karena ku tahu harta dan rupa bisa hilang kapan saja diterpa waktu dan keadaan. Dalam setiap untai doa, aku selalu meminta sebuah permohonan kepada Tuhanku. Agar aku dijodohkan oleh lelaki yang dekat dengan-Nya. Sosok yang mau membawaku semakin dekat dengan-Nya. Seorang yag mampu memuliakan dan mempertcantik kepribadianku. Seorang lelaki sholeh yang bertakwa kepada Allah Maha Pengasih lagi Maha penyayang.

Beruntunglah aku ditemani oleh seorang ibu yang sudah lanjut usia bernama bu Aminah. Dengan tubuh yang sudah mulai membungkuk, beliau penuh kasih sayang membantu dan menyayangiku ketika orang terdekat pergi meninggalkan aku. Malam itu setelah usai pernikahan aku segera pergi menuju kamar ibu Aminah.

 “ Tok.. tok.. tok.. assalamu’alaikum” aku mengetuk pintu kamar bu Aminah.

 “ wa’alaikumsalam” ibu Aminah menjawab salam lantas membuka pintu untukku.

 “ Maaf ibu saya mengganggu istirahat ibu..” “ Owalah neng cantik, silahkan masuk kekamar ibu, tapi maaf ya kamar ibu jelek dan berantakan.” Ibu Aminah segera menggandeng tanganku dan mengajakku duduk disebuah kursi bambu.

 “ ibu, saya takut disini, boleh saya tidur bersama ibu untuk beberapa waktu?” suaraku lirih, aku tertunduk lesu.

 “ Hehehe, kenapa kamu takut tidur dengan suamimu?” bu Aminah menggodaku.

 “ iya buk, saya belum siap dan masih malu.”

 “ Tidak apa - apa, nanti biar ibu memberikan pengertian untuk suamimu. Ibu maklum kok pengantin baru masih malu – malu.

” Ibu Aminah membelai kerudungku dengan lembutnya.

 “ Terimakasih banyak ya bu..” Aku hanya menelan lidahku. Ibu Aminah belum mengerti perasaanku. Setidaknya aku cukup tenang karena aku tidak tidur satu keranjang bersama seorang yang tak ku kenal.

 “ ya sudah buk, Nita mau permisi sholat dulu.”

 “ monggo neng”

Dadaku sudah penuh dengan isi, inginku tumpahkan seluruh isi ini sebab aku tak sanggup menahannya. Segera ku ambil air wudhu, berharap kepenatan dan beban ini hanyut larut oleh air yang mengalir dari kulit kepala hingga ujung kakiku. Segera kutunaikan sholat yang sudah menjadi kewajibanku.

“ Ya Allahku, kemana saja diriku pergi sampai aku tidak paham dengan ta’aruf yang menghasilkan pernikahan ini. Apa benar aku telah menjawab mau? Bagaimana aku bisa mempertanggung jawabkan ini Ya Allah jika aku sendiri tidak mampu. Ya Allah, hatiku terasa gundah membiarkan cintaku terhadap Zidan hilang begitu saja. aku mencintai Zidan Ya Allah tapi sekarang aku telah menjadi istri orang lain. Ampunilah aku Ya Allah telah berbuat dosa besar.” Air mataku mengalir begitu derasnya, tanpa tersadar aku menangis sesenggukan dan suamikupun melihatnya.

 Segera kuhapus air mataku, aku tak ingin ia melihatnya. Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya, sebab ia selalu melihat perbuatanku lantas tersenyum seolah ia bahagia. Hari pertama berpisah dari keluarga yang kucinta, aku tidak mampu memejamkan mata meski waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Tubuh terasa amat lelah, matapun begitu kering karena terlalu banyak menangis. Keadaan ini sunggh menguras tenagaku, sebaiknya ku tunaikan sholat hajat untuk meringankan beban dan pikiran yang memenuhi isi kepalaku.

Segeraku beranjak dari ranjang berselambu putih. Ketika aku berjalan menuju dapur aku melihat sebuah pemandangan. Samiku tengah tidur seorang diri dikamar pengantin yang kulihat cukup bersih dengan corak bunga berwarna merah hati. Dia tertidur pulas beralas tangan, miring sebelah kanan tanpa selimut, tanpa aku yang seharusnya ada. Setan membisikkan ku sebuah kelicikan besar. Ia berberkata kepadaku,

“Setelah ini kamu harus menceraikan suamimu dan kamu kembali kepada Zidanu. Apa kamu rela jika lelaki asing itu menjamah tubuhmu?” Setan berhasil menghasutku, aku akan membuat lelaki itu membenciku. Lantas ia akan pergi meninggalakanku.

Waktu terus berjalan namun aku masih menunjukkan sifat angkuh dan diam diri terhadap suamiku.Bahkan dalam waktu yang cukup lama aku belum pernah bercengkerama dengan dia. Namun aku tetap mengurus semua keperluan rumah tangga mulai dari memasak, membersihkan seluruh ruangan rumah dan mencuci pakaiannya. Aku sungkan kepada bu Aminah yang sudah berbaik hati kepadaku. Suamiku sepeti memahamiku, dia memaklumi keadaanku.

Yang ku takutkan dia terlalu sabar menghadapiku. Dia sama sekali tidak pernah mengeluh atau marah sedikitpun meskipun sikapku yang sangat acuh dan tak memperdulikannya. Justru yang ku temui adalah senyuman manis dan tulus yang tak pernah berubah dari pertama kita bertemu. Tetap saja hati mengeras dan kaku. Zidan masih berada dalam hati dan pikiranku. Semua sikap baik yang ditunjukkan suamiku tak mengurangi ata merubah perasaanku terhadap Zidan. Meskipun sebenarnya hatiku sangat kalut dan menderita bahwa aku tidak bisa menghubungi Zidan.

Adzan subuh menggema, ku tersungkur disajadah mahar dari suamiku. Ketika ku bersujud pada rakaat terakhir, aku mendengar suara teriakan ibu Aminah. Beliau menyebut namaku dan memecahkan suasana sepi nan sunyi.

" Neenggg..!! neng Nita.. tolong suamimu neng…!!!” Ibu Aminah berteriak dan menangis sekencang kencangnya. Ibu Aminah berteriak bahwa suamiku sedang mengalami sakratul maut yang indah. Keningnya penuh dengan keringat, tubuhnya sudah mulai dingin dan pucat. Lantas banyak orang berhamburan datang untuk melihat keadaan suamiku.

Tersentak dan sesak, dadaku bergetar sengat keras mendengar berita ini, segera aku berlari menemui sosok suami yang kuacuhkan. Dia sedang terkulai dipangkuan seorang ibu, bibirnya bergeming penuh dengan doa dan lantunan ayat – ayat suci. Serasa terkunci, mulutku bungkam tak mampu berbicara sepatah katapun. Hanya nafasku yang tersendat dan koyakan didada terasa sakit mencekik hatiku. Kudengar dari pembicaraan orang – orang yang datang, lelaki asing itu adalah sosok yang baik dan berakhlak mulia.

Diantara mereka ada yang sengaja datang untuk membawa berita gembira bahwa dia mendapatkan beasiswa kuliah dan mendapat pekerjaan yang cukup mapan. Mereka terlihat sangat bersedih dan duka melihat keadaan suamiku yang lemah. Otakku merekam ulang setiap kejadian. Kuingat kembali para saksi dan orang tuaku ketika kami menikah. Kuingat kembali senyumannya yang manis dan indah, dia yang tak pernah murka dan mengeluh sekalipun aku tak bisa memenuhi kebutuhannya sebagai seorang istri.

Aku berlari sekencang – kencangnya mengambil buku hijau Yaasiin yang selalu setia menemaniku ketika hati dirundung galau dan juga rindu, Dengan rasa sesal ku berdoa didalam hatiku. “Maafkan aku suamiku, aku bukanlah istri yang baik untukmu. Selama ini aku tak pernah memberikan sesuatu yang indah untukmu. Ijinkan aku bersenandung yaasiin dihadapanmu, dihadapan semua orang yang hadir memohonkan doa untukmu. Hanya lantunan ayat dan doa ini yang bisa kupersembahkan bagimu.”

Bak seorang anak manusia yang bangkit dari alam tidurnya. Suamiku bangun dengan keadaan tenang dan damainya. Aku menangis sejadi – jadinya. Untuk yang pertama kalinya aku mengusap tubuh dan memegang kulitnya. Suamiku hanya tersenyum menatapku, baru aku menyadari ada seorang yang begitu tulus ingin mengambil hati jiwa dan ragaku. Dialah lelaki asing itu.

Allah menegurku lewat kejadian itu, dan aku diberikan kesempatan untuk merubah sikapku dengan memuliakan suamiku. Sampai suamiku mulai bersua, dia menceritkan kepada semua orang tentang kebaikanku yang pandai dan rajin mengurus semua urusan rumah tangga, lagi taat beribadah. Serasa lemas dan tak berdaya dia memujiku dengan sangat berlebihan menutupi segala kekuranganku. Istri macam apa aku ini??? Hatiku semakin sakit dadaku terasa sempit. Air mata ingin tertumpah namun tertahan sesakan didada. Betapa indahnya lelaki ini. Lagi - lagi dia menatapku dengan mata teduh dan senyuman terindahnya, membuat hatiku trenyuh dan terasa syahdu.

“ Allahu Akbar Allahu Akbar… laailahailallaah..” Adzan subuh menyentakkan ku.. Ya Rabby ternyata semua hanyalah mimpi. Tanpa tersadar air mataku meleleh. Mimpi yang penuh dengan hikmah namun getaran dada ini masih sangat terasa kekuatannya.

Ya Allah karuniakanlah kepada hamba suami anak keturunan , dan keluarga kami sebagai penyenang hati dan imam bagi orang yang bertakwa. Hadirkanlah kepada hamba seorang jodoh dunia dan akhirat yang membimbing hamba dan para keturunan hamba menuju ke surga ya Allah. Aamiin Segera ku bergegas mengambil air wudhu, bersyukur kepada Allah atas diberinya mimpi yang penh hikmah. Mudah – mudahan kelak aku bisa menjadi istri sholehah.. aamiin


Salatiga, 18 January 2016