Senin, 18 Januari 2016

Khitbah Cinta






  Semangat pagi untuk dunia dan seisinya, selamat pagi Allah. Karena-Mu aku dipagi hari, dan karena-Mu aku disore hari. Karena-Mu aku hidup, dan karena-Mu aku mati. Semangat pagi diwaktu Dhuha . Kudapati hawa segar dan asri ketika aku membuka pintu dan kutemui beberapa tanaman hias yang berjejer rapi didepan teras rumahku, seolah mereka  tersenyum dan mengucapkan salam “ Selamat pagi Nita J.
 Tak lama, terdengar suara khas mesin motor tua milik bapakku. Bapak yang baru saja pulang mengantar adik pergi kesekolah datang membawa sesuatu. Sedangkan aku sudah siap  memulai aktifitas hari ini, menjemput rejeki yang datang dari berbagai arah. Dari langit, dari bumi, dari dekat dan jauh, dari depan maupun belakangku.
 “ Nita berangkat kerja dulu ya pak..” Aku memohon ridha bapak sebelum bekerja dengan bersalaman dan mencium tangannya.
“ Iya nak, hati – hati dijalan. Oh iya bapak tadi beli bubur buat sarapan. Nanti jangan lupa dimakan ya..” bapak memberiku beberapa donat bertabur gula halus dan  sebungkus bubur sayur tumpang ( sayur tahu pedas  bersantan dengan bumbu kuning yang kental).
“ Terimakasih bapak..” kuambil bungkusan plastik hitam itu dan segera kumasukkan kedalam tas. Sebenarnya hari ini aku sedang berpuasa namun aku tidak mau menolak pemberian bapak yang sudah sengaja membelikan sarapan dan camilan untukku. Aku takut membuat bapak kecewa. Segera kukayuh siputih, dua roda berputar, kedua tangan menjaga keseimbangan, dengan perlahan aku meninggalkan rumahku yang sederhana dan berantakan tapi selalu menimbulkan rasa rindu bersama seisi ruangnya.
Di sepanjang perjalanan, aku teringat dengan mimpi yang membuat sesak dadaku. Tentang dua orang pria yang sama – sama membuatku gelisah. Zidan dan laki – laki asing yang telah menikahiku didalam mimpi. Ada sebuah ketenangan batin tersendiri. Zidan?? Dia sama sekali tidak memberikan kabar kepadaku. Hemm mungkin Allah menginginkan aku untuk lebih dekat dengan-Nya. Jika aku dan Zidan berjodoh pasti kami akan dipersatukan kembali dengan cara dan ridha dari Allah sendiri. “Berhenti untuk memikirkan Zidan yang tiada kejelasan dan kepastiannya. Lebih baik memikirkan sesuatu yang pasti saja” aku bergumam didalam hati.
Mataku mengarah pada suatu pemandangan, seorang bapak yang sudah lanjut usia sedang duduk didalam becak tuanya. Aku tidak merasa asing dangan sosok itu. Beliau adalah tukang becak langganan almarhum nenekku. Aku masih ingat ketika aku duduk dibangku SMP,  bapak ini yang selalu mengantar kami mengelilingi pasar.
Subhanallah... hebatnya bapak ini, dengan mengandalkan kekuatan kakinya mampu menopang hidup sampai saat ini. Tubuhnya masih tetap kurus hanya rambutnya kini berubah warna. Aku teringat dengan bungkusan yang berada ditasku. Bubur sayur Tumpang dan beberapa donat pemberian bapakku. Ada yang berbisik,” kenapa tidak kau berikan saja bungkusan itu kepada bapak tukang becak itu??”
Hemm, akhirnya aku berhenti dan memberikan bungkusan itu kepada bapak tukang becak. Hati kecilku berdoa “ Ya Allah aku jadi rindu kepada nenekku. Nenek yang gemar membagi rejeki dan memberikan oleh – oleh untuk anak dan cucunya. Sayangnya aku belum bisa memberi banyak balasan untuk nenek. Mudah – mudahan Engkau yang akan membalas semua kebaikannnya. Aamiin
                                                                        ***                                                           
Akhirnya rekapitulasi faktur pajak telah berhasil kuselesaikan dengan meninggalkan sedikit rasa pusing dan lelah. Sekarang waktunya pulang, perangkat komputer segera ku matikan lalu ku hampiri siputih. Siputih inilah benda titipan Allah yang paling setia menemaniku, ia berhasil kudapat dari cucuran keringatku. Hemm, Alhamdulillah.. siputih banyak membantuku, dia selalu mengantar ke semua tempat yang aku mau. Ketika diperjalanan, sering aku mengajak bicara dengan siputih. Aku ingin bersamanya sampai nanti, sampai diakhirat bila perlu. Hehehe.. siapa tau disurga nanti ada sepeda kayuhku??? Berkhayal.
Rintik – rintik air dari langit gelap mengisahkan hari ini tentang peristiwa hujan. Tapi entah mengapa aku begitu bahagia jika musim penghujan ini datang. Terkadang aku sedikit membela hujan ketika aku mendengar suara – suara keluhan karena hujan. Sebagian besar ada pula yang menganggap hujan sebagai momok yang menyeramkan. Apalagi untuk mereka yang selalu kedatangan banjir dimusim penghujan. Hemm.. Memang manusia adalah makhluk paling juara untuk berkeluh kesah. Panas sedikit mengeluh, hujan sedikit mengeluh, banyak mengeluh, sedikit mengeluh. Repot juga yaaa
Benarlah sabda Rasulullah saw,Berkunjunglah dengan jarang, niscaya engkau akan menambah kecintaan.”  Seperti halnya kisah hujan, datangnya dirindukan. Namun bumi akan merasa jenuh jika hujan selalu mengguyurnya setiap saat.  Lebih baik berprasangka baik saja ketika hujan turun, karena hujanpun merupakan salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa. J Allahumma shayyiban naafi’an. “ Ya ALLAH, biar turun hujan membawa manfaat.” Aamiin
Sebelum kembali kerumah, aku menyempatkan diri mengunjungi Masjid yang indah nan megah untuk melaksanakan sholat jamaah Isya disana. Masjid  At-Taqwa yang terletak dalam satu lokasi kampus serta dekat dengan alun – alun ini, menjadi tempat yang ramai dan selalu dikunjungi oleh banyak orang. Mulai dari masuknya waktu Dhuha hingga menjelang Maghrib, entah mereka para mahasiswa, atau para keluarga yang tengah berlibur dan menghabiskan waktu di alun – alun kemudian menunaikan kewajibannya di Masjid AT-Taqwa.
 Lantunan adzan yang dikumandangkan mas Yusuf begitu merdu memanggilku, semakin kuat aku mengayuh siputih. Alhamdulillah... belum terlambat, segera aku menuju tempat wudhu wanita untuk menyucikan hadast kecilku. Anak tangga satu persatu ku lewati sampailah aku pada lantai paling atas tempat dimana para kaum hawa merapatkan barisan sholatnya. Dengan nafas tak teratur aku menjawab kalimah – kalimah adzan. Allahu Akbar... Allahu Akbar... Laa ilaahailallahu...
Kupandangi setiap sudut masjid nampak sepi dan sunyi. Mungkin orang saat ini lebih memilih sholat dirumah dari pada di Masjid, karena hujan datang lebih lebat tak seperti biasanya. Hanya ada seorang ibu yang sedang melaksanakan sholat sunnah. Adzan iqomah berkumandang, tanpa berlama - lama aku merapatkan barisan dengan ibu tersebut. Wajahnya bersih dan cantik meskipun sudah termakan usia. Assalamu’alaikum ibu...” aku menyapa dan mencium tangannya. Ku lirik barisan kaum adam, Alhamdulillah cukup banyak ketimbang kami berdua saja si kaum hawa. Tak mengapa, bukankha yang lebih utama sholat berjamaah di masjid ialah mereka para kaum adam??
Suara hujan dan aroma basahnya masih sangat kuat  kurasa, dingin menyelimuti tubuhku. Ku tutup pintu Masjid, tinggalah aku seorang diri. Aku memperbanyak doa dan istighfar, ku dekap tubuhku dengan kedua tangan. Aku  mendengar suara langkah kaki mendekat, pasti mas Yusuf akan mematikan lampu Masjid. Namun ketika ia melihatku, ia melangkah pergi dan membiarkan lampu tetap  menyala.
Mas Yusuf  adalah seorang takmir masjid, tepatnya Masjid At-Taqwa ini. Dia juga mahasiswa ditempatku menimba ilmu. Kami pernah bersua sebentar ketika aku meminjam charger ketika handphone ku mati sementara aku sedang membutuhkannya karena ada keperluan yang cukup penting. Dia mahasiswa semester 7 dan ia sedang sibuk menyelesaikan tugas KKN (Kuliah Kerja Nyata).  Aku tau dia adalah mahasiswa yang cerdas, wajar jika para dosen sering mencarinya untuk sebuah kepentingan.
Sedangkan aku hanyalah seorang mahasiswa ekstensi yang tidak setiap hari mendapatkan asupan ilmu. Kelas ekstensi lebih sering dikenal dengan kuliah sore. Kelas Ekstensi diperuntukan bagi  mahasiswa yang sudah bekerja. Termasuk juga diriku, mahasiswa ekstensi harus pandai membagi waktu belajar dengan waktu bekerja. Jangan ditanya bagaimana kelelahan kami? sudah pasti sangat menguras energi. Justru dengan ini, kami terlatih untuk mandiri dan mengenal tanggung jawab.
Aku bersyukur karena diberikan kesempatan Allah untuk menghirup harum bau perkuliahan. Dulu setelah lulus dari bangku SMA aku harus bekerja dan menabung untuk biaya kuliahku, dua tahun berikutnya barulah aku bisa melanjutkan kuliah. Meskipun sedikit terlambat, keadaan ini tidak mematahkan semangatku untuk belajar. Menuntut ilmu tidak mengenal usia, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi seorang muslim. Nikmat rasanya mencapai tujuan dengan jerih payah sendiri. Ya… begitulah aku, jika aku punya satu titik tujuan, bagaimanapun caranya aku harus bisa meraihnya.
Alhamdulillah.., hujan mulai reda, meskipun masih gerimis aku harus segera pulang karena pasti ibu sudah menunggu dirumah. Sebelum meninggalkan Masjid tak lupa aku mematikan lampu, jadi mas Yusuf tak perlu naik turun tangga hanya sekedar mematikanya. Terimakasih Allah sudah diperkenankan berteduh ditempat yang indah. J
Disepanjang perjalanan mulut ini bergeming, berdoa diantara gerimis  yang lembut. Ada kenikmatan tersendiri ketika dinginnnya malam dan air menyatu mengena lapisan kulitku. Tak terasa air mata ikut bercampur, luruh bersama air hujan. Ku memohon ampunan dan hajatku diantara hujan yang mereda.
Tak terasa aku sudah memasuki gang sempit yang jalannya penuh dengan batu kerikil karena aus dan rusak termakan waktu. Aku harus lebih berhati – hati memasuki gang tikus yang licin itu karena lumut yang basah siap menggelincirkan roda siputih. Dengan jitu ku menghindari banyak kubangan dan jalan licin. Alamdulillah, sampai juga dirumah. Senyum ibu menjadi penawar rasa lelahku, menjadi penghangat dari dinginnya malam yang sedari tadi tak juga mau pergi dari tubuhku.
***
Mentari begitu sumringah menampakkan senyum terhangatnya, secerah wajahku dan seseumringah senyumku pagi ini yang membuat pipiku sedikit merona karena terkena silauan mentari. Hemm biasnya indah, suasana yang sangat berbeda dari semalam. Apalagi hari ini adalah hari favoritku.
Hari ini adalah hari Jumat hari dimana kita bisa mendapatkan banyak kebaikan didalamnya. Hari dimana menjadi hari raya bagi kita dan bagi kaum muslimin setelah kita. Dan yang didalam hari Jumat sendiri ada satu kesempatan waktu, jika ada seorang hamba muslim berdoa bertepatan dengan waktu tersebut, untuk urusan dunia dan akhiratnya, dan itu menjadi jatahnya didunia, maka pasti Allah akan mengabulkan doanya. Jika itu bukan jatahnya, maka Allah simpan untuknya dengan wujud yang paling baik dari perkara yang dia minta, atau dia dilindungi dan dihindarkan dari keburukan yang ditakdirkan untuk menimpanya, yang nilainya lebih besar dibandingkan doanya
Hari dimana meninggalnya Nabi Adam Saw , hari dimana aku selalu diingatkan kembali dengan hari akhir, hari pertama sangkakala akan ditiupakan, pada hari itu pula tiupan kedua akan ditiupkan. Hari dimana para kaum adam diwajibkan untuk melaksanakan sholat Jamaah dimasjid, berlomba mencari pahala sedekah yang akan didapatnya mulai dari sebutir telur sampai dengan seekor unta. Hari dimana banyak waktu mustajab untuk berdoa, sungguh hari Jumat adalah istimewa.Wallahu’alam...
Kuawali hari Jumat pagi dengan berkunjung ke Kantor Urusan Agama (KUA). Kedatanganku disana bukan untuk menyelesaikan perkara pernikahan yang indah nian katanya, melainkan untuk menemui seorang guru ngaji yang berkerja sebagai penyuluh agama. Setiap hari Jumat aku selalu mengaji di mushola bersama bu Maryam. Jika kami sedikit bosan dengan suasana KUA, kami sering mencari suasana baru seperti diPerpustakaan Kota, diTaman Kota, di Masjid At.-Taqwa, dan digubuk sawah. Menyenangkan belajar bersama beliau karena banyak hal yang sering kita bicarakan bukan hanya membaca Al Qur’an saja.
Aku sangat terbuka dengan bu Maryam, aku tidak merasa canggung dan malu menceritakan segala persoalanku dengannya. Begitu pula dengan bu Maryam, beliau begitu sabar membimbing dan memberikan ilmu yang tak ku temui di bangku perkuliahan, lebih kepada ilmu kehidupan nyata.
Pertemuan ku dengan bu Maryam kali ini terasa menyesakkan nafasku. Beliau menyampaikan bahwa ada seorang pria yang ingin mengkithbah ku. Padahal bu Maryam sangat tau bagaimana perasaanku terhadap Zidan. Beberapa kali bu Maryam mencoba membantuku dengan sholat Istikharah. Beliau menganjurkan untuk menjauhi Zidan, karena bu Maryam mendapatinya dalam mimpi, menampakkan bahu dan berbalik arah.
Entahlah.. hati dan pikiranku kalut. Memang benar adanya Zidan menghilang begitu saja. Bahkan saat ini aku tak tahu bagaimana kabarnya. Aku terlalu setia menunggu dan memberi pagar hati sampai aku tidak bisa menerima kehadiran pria lain yang ingin mengambil hatiku. Sudah berapa pria yang ku tolak kehadirannya dalam hidupku.  Lalu bagaimana dengan tawaran kithbah itu sendiri?? Apa bisa aku menolak tawaran bu Maryam??
Sesampainya dirumah aku menceritakan semua kepada ibuku. Ibuku yang penuh degan kasih sayang menanggapinya dengan kegembiraan. Ibu menyarankan aku untuk meminta petunjuk kepada Allah melalui sholat Istikharah. Kata ibu, sholat itu adalah salah satu ikhtiar bagi kaum wanita dalam memutuskan suatu hal bukan mencari cinta.
Semakin hari aku merasa semakin ingin mengetahui pria itu. Dia berhasil mengalihkan perhatianku dari Zidan. Ia berhasil merubahku semakin dekat dengan Allah walaupun kami belum pernah menyapa dan bertatap muka. Ia berhasil menimbulkan kerinduan untuk segera bertemu. Ku beranikan diri menanyakan hal ini kepada bu Maryam. Bu Maryam begitu semangat mendengar tanggapanku untuk mengenalnya.
Lusa di kantor kecamatan ada acara Kursus Pra Nikah, dan aku menjadi tamu disana.. Disana aku akan mengetahui siapa pria yang ingin mengkithbah ku. Dia menjadi moderator diskusi. Aku menyanggupi hadir. Insyaallah..
***
          Pukul 08:30 acara dimulai, jantungku berdegup kencang. Aku duduk dibarisan paling belakang. Sampailah pada perkenalan orang – orang yang terlibat pada kegiatan tersebut. Aku tak berani menatap kedepan, wajahku tertunduk lesu. Sampai nama selaku moderator disebutkan “ Yusuf  Firmansyah”

         “Subhanallah mas Yusuf.. mas Yusuf yang selalu menunggu aku di Masjid At-Taqwa itu?? Apa tidak salah dengar aku??” ku beranikan mengangkat wajahku dan melihat apakah benar dia Yusuf Firmansyah yang aku kenal itu. “Allahu akbar benar dia orangnya..” air mataku meleleh tak menyangka bahwa orang itu adalah mas Yusuf. Namanya mengingatkan aku kepada Nabi Yusuf yang dikenal sebagai Nabi sholeh yang mempunyai wajah teramat rupawan sampai Zulaika yang jelita tergoda dan ingin memiliknya.
           Jujur saja, selama ini memang aku mengaguminya. Namun aku merasa tak pantas jika bersanding dengannya. Perempuan mana yang tak jatuh hati dengan penghafal Al Qur’an yang  cerdas dan rupawan. Aku mencubit tanganku sendiri, “ awww.. sakit..” ternyata ini bukanlah mimpi.
           Setelah acara selesai aku segera menemui bu Maryam. Beliau bercerita kepadaku, selama ini mas Yusuf selalu memperhatikanku, baik ketika aku kuliah maupun kegiatanku diluar. Suatu hari ketika aku dan ibu Maryam mengaji di Masjid At-Taqwa, mas Yusuf melihat kedekatan kami. Dan kebetulan ayah dari mas Yusuf adalah kerabat dari ibu Maryam. Lantas mas Yusuf menemui ibu Maryam dan mengutarakan niat untuk mengkhitbah dan jika aku menerima ia akan segera melamar secara resmi.
            Ibu Maryam memberikan kesempatan kepada kami untuk bertemu. Dadaku berdesir tiada henti, lidahku kelu. Kami berjanji akan bertemu ditaman Perpustakaan Daerah. Aku duduk dibangku kayu panjang yang diiringi suara air mengalir kolam, sungguh menambah semilir dihati.
Assalamu’alaikum ukhti Wanita Kirana..” mas Yusuf menyapaku.

Wa’alaikum salam Wr Wb akhi Yusuf Firmanyah” aku menunduk tak berani melihat apalagi menatap matanya.

Kaifa haluki?” (bagaimana kabarmu?)

Bi khoir, walhamdulillahirabbil’alamin.. wa kaifa haluka anta?” (baik – baik saja, segala Puji bagi Allah.. kamu sendiri??)

Alhamdulillah, ana bi khoir.. sahhalallah lanal khaira haitsuma kunna..” (alhamdulillah, aku baik.. semoga Allah mudahkan kita dalam kebaikan dimanapun kita berada..)

Aamiin Ya Rabb..”

“ Nita.. Kenapa nama kamu Wanita Kirana?? Kenapa bukan Pria Kirana saja??” mas Yusuf  mencoba menyegarkan suasana, sepertinya ia tau kalau aku sedang gugup.

“Mas Yusuf bisa saja. Aku sendiri kurang tau mas..” ia berhasil membuatku tersenyum.

“ Kalau tidak keberatan aku mau menanyakan arti nama itu kepada orang tuamu, juga menanyakan hal lain tentangmu”

“Ada – ada saja mas ini, memangnya mas ingin menanyakan apa??"

“ Rahasia.. ba’da Isya’ aku dan keluarga kerumah ukhti ya..”

“Bo.. boleh mas Yusuf jika hanya sekedar untuk bersilaturahmi..”

“ Ya sudah, sebaiknya kita pulang.. jangan lupa shalat.”

Injeh mas Yusuf, tidak akan lupa.. aku pamit, assalamu’alaikum.."

wa’alaikum salam wr wb..”

           Ba’da Isya’  Mas Yusuf dan keluarga datang bersama bu Maryam, mereka mengutarakan niat untuk mengkithbahku. Dengan menyebut nama Allah aku terima khitbah (pinangan) nya. Bulan berikutnya mas Yusuf melamarku secara resmi, kami akan menikah setelah mas Yusuf diwisuda, 6 bulan lagi. Alhamdulillah.. aku dikaruniakan lelaki sholeh seperti mas Yusuf, semoga segala urusan dan niat baik dimudahkan jalannya oleh Allah swt.. aamiin


Tenanglah wahai jiwa yang kesepian..
 Semua kan indah pada waktunya...
 Kithbah cinta menjawab semua tanya...   
Sakinah bersama pilihanNya...


Salatiga, 18 January 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar