Semangat
pagi untuk dunia dan seisinya, selamat pagi
Allah. Karena-Mu aku dipagi hari, dan karena-Mu aku disore hari. Karena-Mu aku
hidup, dan karena-Mu aku mati. Semangat pagi diwaktu Dhuha
. Kudapati hawa segar
dan asri ketika aku
membuka pintu dan kutemui beberapa tanaman hias yang berjejer rapi didepan teras
rumahku, seolah mereka tersenyum
dan mengucapkan salam “ Selamat pagi Nita J ”.
Tak
lama, terdengar
suara khas mesin
motor tua milik bapakku. Bapak yang baru saja pulang mengantar adik pergi
kesekolah datang membawa sesuatu. Sedangkan
aku sudah siap memulai aktifitas hari
ini, menjemput rejeki yang datang dari berbagai arah. Dari langit, dari bumi,
dari dekat dan jauh, dari depan maupun belakangku.
“ Nita berangkat kerja dulu ya pak..” Aku
memohon ridha bapak sebelum bekerja dengan bersalaman dan mencium tangannya.
“
Iya nak, hati – hati dijalan. Oh iya bapak tadi beli bubur buat sarapan. Nanti jangan lupa dimakan ya..”
bapak memberiku beberapa donat bertabur gula halus dan sebungkus bubur sayur tumpang
( sayur tahu pedas bersantan dengan
bumbu kuning yang kental).
“
Terimakasih bapak..” kuambil bungkusan plastik hitam itu dan segera kumasukkan
kedalam tas. Sebenarnya hari ini aku sedang berpuasa namun aku tidak mau menolak
pemberian bapak yang sudah sengaja membelikan sarapan dan camilan untukku. Aku takut membuat bapak kecewa. Segera
kukayuh siputih,
dua roda berputar, kedua
tangan menjaga keseimbangan,
dengan perlahan aku meninggalkan rumahku yang sederhana dan berantakan tapi
selalu menimbulkan rasa rindu bersama seisi ruangnya.
Di
sepanjang perjalanan,
aku teringat dengan
mimpi yang membuat sesak dadaku. Tentang dua orang pria yang sama – sama
membuatku gelisah. Zidan dan laki – laki asing yang telah menikahiku didalam
mimpi. Ada sebuah ketenangan batin tersendiri. Zidan?? Dia sama sekali tidak
memberikan kabar kepadaku. Hemm
mungkin Allah menginginkan aku untuk lebih dekat dengan-Nya. Jika aku dan Zidan
berjodoh pasti kami akan dipersatukan kembali dengan cara dan ridha dari Allah
sendiri. “Berhenti
untuk memikirkan Zidan yang tiada kejelasan dan kepastiannya. Lebih baik
memikirkan sesuatu yang pasti saja” aku bergumam didalam hati.
Mataku mengarah pada suatu pemandangan,
seorang bapak yang sudah lanjut usia sedang duduk didalam becak tuanya. Aku tidak merasa asing dangan
sosok itu. Beliau adalah tukang becak langganan almarhum nenekku. Aku masih
ingat ketika aku duduk dibangku SMP, bapak ini yang selalu mengantar kami mengelilingi pasar.
Subhanallah... hebatnya bapak ini, dengan mengandalkan
kekuatan kakinya mampu menopang hidup sampai saat ini. Tubuhnya masih tetap kurus
hanya rambutnya kini berubah warna. Aku teringat dengan bungkusan yang berada ditasku.
Bubur sayur Tumpang dan beberapa donat pemberian bapakku. Ada yang berbisik,” kenapa tidak kau berikan saja bungkusan
itu kepada bapak tukang becak itu??”
Hemm,
akhirnya aku berhenti dan memberikan bungkusan itu kepada bapak tukang becak. Hati kecilku berdoa “
Ya Allah aku jadi rindu kepada nenekku. Nenek yang gemar membagi rejeki dan
memberikan oleh – oleh untuk anak dan cucunya. Sayangnya aku belum bisa memberi
banyak balasan untuk nenek. Mudah – mudahan Engkau yang akan membalas semua kebaikannnya.
Aamiin”
***
Akhirnya
rekapitulasi faktur pajak telah
berhasil kuselesaikan dengan meninggalkan sedikit rasa pusing dan lelah.
Sekarang waktunya pulang, perangkat komputer segera ku matikan lalu ku hampiri siputih.
Siputih inilah benda titipan Allah yang paling setia menemaniku, ia berhasil
kudapat dari cucuran keringatku. Hemm, Alhamdulillah..
siputih banyak membantuku, dia selalu mengantar ke semua tempat yang aku mau. Ketika
diperjalanan, sering aku mengajak bicara dengan siputih. Aku ingin bersamanya
sampai nanti, sampai diakhirat bila perlu. Hehehe.. siapa tau disurga nanti ada
sepeda kayuhku??? Berkhayal.
Rintik
– rintik air dari langit gelap mengisahkan hari ini tentang peristiwa hujan.
Tapi entah mengapa aku begitu bahagia jika musim penghujan ini datang.
Terkadang aku sedikit membela hujan ketika aku mendengar suara – suara keluhan karena hujan. Sebagian
besar ada pula yang menganggap hujan sebagai momok yang menyeramkan. Apalagi
untuk mereka yang selalu kedatangan banjir dimusim penghujan. Hemm.. Memang
manusia adalah makhluk paling juara untuk berkeluh kesah. Panas sedikit
mengeluh, hujan sedikit mengeluh, banyak mengeluh, sedikit mengeluh. Repot juga
yaaa
Benarlah
sabda Rasulullah saw,
“ Berkunjunglah dengan jarang, niscaya
engkau akan menambah kecintaan.”
Seperti halnya kisah hujan, datangnya dirindukan. Namun bumi akan merasa
jenuh jika hujan selalu mengguyurnya setiap saat. Lebih baik berprasangka baik saja ketika
hujan turun, karena hujanpun merupakan salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa. J
Allahumma shayyiban naafi’an. “ Ya
ALLAH, biar turun hujan membawa manfaat.” Aamiin
Sebelum
kembali kerumah, aku menyempatkan diri mengunjungi Masjid yang indah nan megah
untuk melaksanakan sholat jamaah Isya’
disana. Masjid At-Taqwa yang terletak
dalam satu lokasi kampus serta dekat dengan alun – alun ini, menjadi tempat
yang ramai dan selalu dikunjungi oleh banyak orang. Mulai dari masuknya waktu Dhuha
hingga menjelang Maghrib, entah
mereka para mahasiswa, atau para keluarga yang
tengah berlibur dan menghabiskan waktu di alun – alun kemudian menunaikan
kewajibannya di Masjid AT-Taqwa.
Lantunan adzan yang dikumandangkan mas Yusuf begitu merdu memanggilku, semakin kuat aku
mengayuh siputih. Alhamdulillah... belum terlambat, segera aku menuju
tempat wudhu wanita
untuk menyucikan hadast kecilku. Anak
tangga satu persatu ku lewati sampailah
aku pada lantai paling atas tempat dimana para
kaum hawa merapatkan barisan sholatnya. Dengan nafas tak teratur aku menjawab kalimah – kalimah adzan. Allahu Akbar... Allahu Akbar... Laa ilaahailallahu...
Kupandangi
setiap sudut masjid nampak sepi dan sunyi. Mungkin orang saat ini lebih memilih
sholat dirumah dari pada di Masjid, karena hujan datang lebih lebat tak seperti
biasanya. Hanya ada seorang ibu yang sedang melaksanakan sholat sunnah. Adzan iqomah
berkumandang, tanpa berlama - lama aku merapatkan barisan
dengan ibu tersebut. Wajahnya bersih dan cantik meskipun sudah termakan usia.” Assalamu’alaikum ibu...” aku menyapa dan
mencium tangannya. Ku lirik barisan kaum adam, Alhamdulillah cukup banyak ketimbang kami berdua saja si kaum hawa. Tak
mengapa, bukankha
yang lebih utama sholat berjamaah
di masjid ialah mereka para kaum adam??
Suara
hujan dan aroma basahnya masih sangat kuat kurasa,
dingin menyelimuti tubuhku. Ku tutup pintu Masjid, tinggalah aku seorang diri. Aku memperbanyak doa dan istighfar, ku dekap tubuhku dengan kedua tangan. Aku mendengar
suara langkah kaki mendekat, pasti mas Yusuf
akan mematikan lampu Masjid. Namun ketika ia melihatku, ia melangkah pergi dan
membiarkan lampu tetap menyala.
Mas
Yusuf adalah seorang takmir masjid, tepatnya
Masjid At-Taqwa ini.
Dia juga mahasiswa ditempatku menimba ilmu. Kami pernah bersua sebentar ketika aku meminjam charger ketika handphone ku mati
sementara aku sedang membutuhkannya karena ada keperluan yang cukup penting.
Dia mahasiswa semester 7 dan ia sedang
sibuk menyelesaikan tugas KKN (Kuliah
Kerja Nyata). Aku tau dia adalah mahasiswa yang cerdas,
wajar jika para dosen sering mencarinya untuk sebuah kepentingan.
Sedangkan
aku hanyalah seorang
mahasiswa ekstensi yang tidak setiap hari
mendapatkan asupan ilmu. Kelas ekstensi lebih sering dikenal dengan kuliah
sore. Kelas Ekstensi diperuntukan bagi mahasiswa yang sudah bekerja. Termasuk juga
diriku, mahasiswa ekstensi harus pandai membagi
waktu belajar dengan waktu bekerja. Jangan
ditanya bagaimana kelelahan kami? sudah pasti sangat menguras energi. Justru
dengan ini, kami terlatih untuk mandiri dan mengenal tanggung jawab.
Aku bersyukur karena diberikan
kesempatan Allah untuk menghirup harum
bau perkuliahan. Dulu setelah lulus
dari bangku SMA aku harus bekerja dan menabung untuk
biaya kuliahku, dua tahun berikutnya
barulah aku bisa
melanjutkan kuliah. Meskipun sedikit terlambat, keadaan
ini tidak mematahkan semangatku untuk belajar. Menuntut
ilmu tidak mengenal usia, menuntut ilmu
adalah kewajiban bagi seorang muslim. Nikmat
rasanya mencapai tujuan dengan jerih payah sendiri. Ya… begitulah aku, jika aku punya satu titik tujuan, bagaimanapun
caranya aku harus bisa
meraihnya.
Alhamdulillah..,
hujan mulai reda, meskipun masih gerimis aku harus segera pulang karena pasti ibu sudah menunggu dirumah.
Sebelum meninggalkan Masjid tak lupa aku mematikan lampu, jadi mas Yusuf tak perlu naik turun
tangga hanya sekedar mematikanya.
Terimakasih Allah sudah diperkenankan berteduh ditempat yang indah. J
Disepanjang
perjalanan mulut ini bergeming, berdoa diantara gerimis yang lembut. Ada kenikmatan tersendiri ketika
dinginnnya malam dan air menyatu mengena lapisan kulitku. Tak terasa air mata
ikut bercampur, luruh bersama air hujan. Ku memohon ampunan dan hajatku
diantara hujan yang mereda.
Tak
terasa aku sudah memasuki gang sempit yang
jalannya penuh dengan batu
kerikil karena aus dan rusak termakan waktu. Aku harus lebih
berhati – hati memasuki gang tikus yang licin itu karena lumut yang basah siap
menggelincirkan roda siputih. Dengan jitu ku menghindari banyak kubangan dan
jalan licin. Alamdulillah, sampai
juga dirumah. Senyum ibu menjadi penawar
rasa lelahku, menjadi penghangat dari dinginnya malam yang sedari tadi tak juga
mau pergi dari tubuhku.
***
Mentari begitu sumringah menampakkan senyum terhangatnya,
secerah wajahku dan seseumringah senyumku pagi ini yang membuat pipiku sedikit
merona karena terkena silauan mentari.
Hemm… biasnya indah, suasana yang sangat berbeda dari semalam.
Apalagi hari ini adalah hari favoritku.
Hari ini adalah hari Jumat hari dimana kita bisa mendapatkan
banyak kebaikan didalamnya. Hari dimana menjadi hari raya bagi kita dan bagi
kaum muslimin setelah kita. Dan yang didalam hari Jumat sendiri ada satu kesempatan waktu,
jika ada seorang hamba muslim berdoa bertepatan dengan waktu tersebut, untuk
urusan dunia dan akhiratnya, dan itu menjadi jatahnya didunia, maka pasti Allah
akan mengabulkan doanya. Jika itu bukan jatahnya, maka Allah simpan untuknya
dengan wujud yang paling baik dari perkara yang dia minta, atau dia dilindungi
dan dihindarkan dari keburukan yang ditakdirkan untuk menimpanya, yang nilainya
lebih besar dibandingkan doanya
Hari dimana meninggalnya Nabi Adam Saw , hari dimana aku selalu diingatkan kembali dengan hari
akhir, hari pertama sangkakala akan
ditiupakan, pada hari itu pula tiupan kedua akan ditiupkan. Hari dimana para
kaum adam diwajibkan untuk melaksanakan sholat Jamaah dimasjid, berlomba
mencari pahala sedekah yang akan didapatnya mulai dari sebutir telur sampai
dengan seekor unta. Hari dimana banyak waktu mustajab untuk berdoa, sungguh hari Jumat adalah istimewa.Wallahu’alam...
Kuawali hari Jumat pagi dengan berkunjung ke Kantor
Urusan Agama (KUA). Kedatanganku disana bukan untuk menyelesaikan perkara
pernikahan yang indah nian katanya, melainkan untuk menemui seorang guru ngaji
yang berkerja sebagai penyuluh agama. Setiap hari Jumat aku selalu mengaji di mushola
bersama bu Maryam. Jika kami sedikit bosan dengan suasana KUA, kami sering mencari
suasana baru seperti diPerpustakaan Kota, diTaman Kota, di Masjid At.-Taqwa, dan digubuk sawah. Menyenangkan belajar
bersama beliau karena banyak hal yang sering kita bicarakan bukan hanya membaca
Al Qur’an saja.
Aku sangat terbuka dengan bu Maryam, aku tidak merasa
canggung dan malu menceritakan segala persoalanku dengannya. Begitu pula dengan
bu Maryam, beliau begitu sabar membimbing dan memberikan ilmu yang tak ku temui di
bangku perkuliahan, lebih kepada ilmu kehidupan nyata.
Pertemuan ku dengan bu Maryam kali ini terasa menyesakkan
nafasku. Beliau menyampaikan bahwa ada seorang pria yang ingin mengkithbah ku.
Padahal bu Maryam sangat tau bagaimana perasaanku terhadap Zidan. Beberapa kali
bu Maryam mencoba membantuku dengan sholat Istikharah.
Beliau menganjurkan untuk menjauhi Zidan, karena bu Maryam mendapatinya dalam
mimpi, menampakkan bahu dan berbalik arah.
Entahlah.. hati dan pikiranku kalut. Memang benar adanya
Zidan menghilang begitu saja. Bahkan saat ini aku tak tahu bagaimana kabarnya.
Aku terlalu setia menunggu dan memberi pagar hati sampai aku tidak bisa menerima kehadiran pria lain yang
ingin mengambil hatiku. Sudah berapa pria yang ku tolak kehadirannya dalam
hidupku. Lalu bagaimana dengan tawaran kithbah itu sendiri?? Apa bisa aku menolak
tawaran bu Maryam??
Sesampainya dirumah aku menceritakan semua kepada ibuku. Ibuku
yang penuh degan kasih sayang menanggapinya dengan kegembiraan. Ibu menyarankan aku
untuk meminta petunjuk kepada Allah melalui sholat
Istikharah. Kata ibu, sholat itu adalah salah satu ikhtiar bagi kaum wanita dalam memutuskan suatu hal bukan mencari
cinta.
Semakin hari aku merasa semakin ingin mengetahui pria itu.
Dia berhasil mengalihkan perhatianku dari Zidan. Ia berhasil merubahku semakin
dekat dengan Allah walaupun kami belum pernah menyapa dan bertatap muka. Ia
berhasil menimbulkan kerinduan untuk segera bertemu. Ku beranikan diri
menanyakan hal ini kepada bu Maryam. Bu Maryam begitu semangat mendengar
tanggapanku untuk mengenalnya.
Lusa di kantor kecamatan ada acara Kursus Pra Nikah, dan aku menjadi tamu disana.. Disana aku akan mengetahui siapa
pria yang ingin mengkithbah ku. Dia menjadi moderator diskusi. Aku menyanggupi
hadir. Insyaallah..
***
Pukul 08:30 acara dimulai, jantungku
berdegup kencang. Aku duduk dibarisan paling belakang. Sampailah pada perkenalan orang – orang yang
terlibat pada kegiatan tersebut. Aku tak berani menatap kedepan, wajahku
tertunduk lesu. Sampai nama selaku moderator disebutkan “ Yusuf Firmansyah”
“Subhanallah
mas Yusuf.. mas Yusuf yang selalu menunggu aku di Masjid At-Taqwa itu?? Apa tidak salah dengar aku??”
ku beranikan mengangkat wajahku dan melihat apakah benar dia Yusuf Firmansyah
yang aku kenal itu.
“Allahu akbar benar dia orangnya..”
air mataku meleleh tak menyangka bahwa orang itu adalah mas Yusuf. Namanya
mengingatkan aku kepada Nabi Yusuf yang dikenal sebagai Nabi sholeh yang mempunyai
wajah teramat rupawan sampai Zulaika yang jelita tergoda dan ingin memiliknya.
Jujur saja,
selama ini memang aku mengaguminya. Namun aku merasa tak pantas jika bersanding
dengannya. Perempuan mana yang tak jatuh hati dengan penghafal Al Qur’an yang cerdas dan rupawan. Aku mencubit tanganku
sendiri, “ awww.. sakit..” ternyata
ini bukanlah mimpi.
Setelah acara
selesai aku segera menemui bu Maryam. Beliau bercerita kepadaku, selama ini mas
Yusuf selalu memperhatikanku, baik ketika aku kuliah maupun kegiatanku diluar. Suatu
hari ketika aku dan ibu Maryam mengaji di Masjid At-Taqwa, mas Yusuf melihat
kedekatan kami. Dan kebetulan ayah dari mas Yusuf adalah kerabat dari ibu
Maryam. Lantas mas Yusuf menemui ibu Maryam dan mengutarakan niat untuk
mengkhitbah dan jika aku menerima ia akan segera melamar secara resmi.
Ibu Maryam
memberikan kesempatan kepada kami untuk bertemu. Dadaku berdesir tiada henti,
lidahku kelu. Kami berjanji akan bertemu ditaman Perpustakaan Daerah. Aku duduk
dibangku kayu panjang yang diiringi suara air mengalir kolam, sungguh menambah
semilir dihati.
“Assalamu’alaikum ukhti Wanita Kirana..”
mas Yusuf menyapaku.
“Wa’alaikum salam Wr Wb akhi Yusuf
Firmanyah” aku menunduk tak berani melihat apalagi menatap matanya.
“Kaifa haluki?” (bagaimana kabarmu?)
“ Bi khoir, walhamdulillahirabbil’alamin.. wa
kaifa haluka anta?” (baik – baik saja, segala Puji bagi Allah.. kamu
sendiri??)
“ Alhamdulillah, ana bi khoir.. sahhalallah
lanal khaira haitsuma kunna..” (alhamdulillah, aku baik.. semoga Allah
mudahkan kita dalam kebaikan dimanapun kita berada..)
“ Aamiin Ya Rabb..”
“ Nita.. Kenapa
nama kamu Wanita Kirana?? Kenapa bukan Pria Kirana saja??” mas Yusuf mencoba menyegarkan suasana, sepertinya ia tau
kalau aku sedang gugup.
“Mas Yusuf bisa
saja. Aku sendiri kurang tau mas..” ia berhasil membuatku tersenyum.
“ Kalau tidak
keberatan aku mau menanyakan arti nama itu kepada orang tuamu, juga menanyakan
hal lain tentangmu”
“Ada – ada saja
mas ini, memangnya mas ingin menanyakan apa??"
“ Rahasia.. ba’da Isya’ aku dan keluarga kerumah ukhti ya..”
“Bo.. boleh mas
Yusuf jika hanya sekedar untuk bersilaturahmi..”
“ Ya sudah,
sebaiknya kita pulang.. jangan lupa shalat.”
“Injeh mas Yusuf, tidak akan lupa.. aku
pamit, assalamu’alaikum.."
“wa’alaikum salam wr wb..”
Ba’da Isya’ Mas Yusuf dan keluarga datang bersama bu
Maryam, mereka mengutarakan niat untuk mengkithbahku. Dengan menyebut nama
Allah aku terima khitbah (pinangan) nya.
Bulan berikutnya mas Yusuf melamarku secara resmi, kami akan menikah setelah
mas Yusuf diwisuda, 6 bulan lagi. Alhamdulillah..
aku dikaruniakan lelaki sholeh seperti mas Yusuf, semoga segala urusan dan niat
baik dimudahkan jalannya oleh Allah swt.. aamiin
Tenanglah wahai
jiwa yang kesepian..
Semua kan indah pada waktunya...
Kithbah cinta
menjawab semua tanya...
Sakinah bersama
pilihanNya...
Salatiga, 18 January 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar