Senin, 18 Januari 2016

Lelaki Asing


Aku tak menyangka ternyata aku telah dipilih seorang lelaki untuk menjadi pendamping hidupnya. Kini aku telah menikah. Sedikit aneh memang sebab aku tak mengenal siapa lelaki itu, bahkan nama lengkapnya saja aku tak tahu, retina mataku belum pernah menangkap bayang wajahnya dengan jelas, suaranya tak pernah ku hafal digendang telinga, apalagi dengan perasaan itu sungguh sama sekali aku tidak mencintainya.

Berbeda dari pernikahan – pernikahan yang sering aku lihat dibanyak tempat. Kemewahan dengan berbagai rupa dan warna, berhiaskan janur kuning melengkung dan dekorasi bunga - bunga, kebaya mewah melilit tubuh, sanggul konde kreasi penuh dengan hiasan kuningan dan melati, make up tebal, kening penuh dengan pidih berwarna hitam. Raja dan ratu sehari duduk berdua mendapat ucapan doa dari sanak saudara dan para tamu undangan yang datang. Sedangkan aku? Aku tidak tergores warna sedikitpun.

Tak kudapati dipan – dipan mewah dan bunga warna – warni. Hanya kerudung coklat polos syar’i yang kukenakan menutup hitam rambutku. Tak ada suara dan dendangan lagu, sunyi dan tenang. Pernikahanku memang sangat sederhana, namun aku merasa betapa ini adalah sebuah peribadahan yang sesungguhnya bukan hanya sekedar pesta pora dan bentuk bermegah - megahan. Benarkah ini pernikahanku? aku masih belum percaya.

Dikerumunan para saksi dan orang tua kami, lelaki itu berikrar mengatakan sebuah janji suci. Yang aku lakukan hanyalah diam diri. Bukankah disamping lelaki itu ada sosok wanita cantik yang mengharap dialah yang akan dipilh bukan diriku. wanita itu menangis pilu. Proses pernikahan sederhana inipun telah selesai, ku beranikan diri untuk menengok lelaki asing itu.Lelaki yang telah merebut masa lajangku. Lelaki yang berani mengucapkan ijab qobul, laki – laki yang menghancurkan semua angan dan cita cintaku bersama Zidan.

Mataku pun tertuju pada sosok berkulit sawo matang yang mengenakan jas hitam berpeci itu. Kudapati mata yang teduh dan senyum tulus darinya, kamipun saling bertatapan dalam kejauhan. Tak henti – hentinya ia menatapku, seolah ia mengagumiku. Namun aku menahan bibirku untuk bungkam dan tak membalas senyumnya. Dengan segera aku memalingkan wajah dari pandangannya. Lelaki itu berjalan seperti mengikutiku, entah apa yang ia inginkan dariku. Sekali lagi aku menoleh kepalaku. Lagi – lagi ia menatapku dengan mata teduh dan senyum yang tulus.

Tanpa keraguan ku palingkan wajahku dari pandangannya kembali.Benarkah dia adalah suamiku?? Direlung hati yang paling dalam, aku begitu mencintai Zidan. Zidan adalah satu – satunya lelaki yang paling dekat denganku. Hubungan tiada restu ini telah kujalin bersamanya lebih dari empat tahun yang lalu. Zidan tidak mengetahui hal ini, dan sungguh aku tidak ingin dia tahu karena aku tidak ingin membuat Zidan kecewa dan menjauh dariku. Memang akhir – akhir ini hubunganku dengan Zidan tak begitu baik. Banyak sekali perselisihan dan beda pendapat diantara kami. Yang hanya menambah perasaan gelisah dan takut untuk kehilangan dirinya. Tapi lagi – lagi aku yang harus mengalah dan mencoba untuk merajuknya. Mendapatkan perhatian dari seorang Zidan yang begitu aku cinta.

Dimataku Zidan adalah seorang yang istimewa dan berbeda dari pria lain. Dia bukan type lalaki genit yang selalu menggoda wanita. Dia mengajariku banyak hal tentang kehidupan, tentang keluarga dan kesetiaan, tentang kesederhanaan dan dermawan. Hanya saja prioritas terhadap keluarganya itu membuat perhatianku banyak tersita olehnya. Aku bangga dengan lealki yang mencintai keluarganya, mungkin Zidan adalah tulang punggung bagi keluarganya. Rasa tanggung jawab dan kewibawaan, menampakkan jiwa ksatrianya. Tapi bagaimana dengan masa depanku? Yang setiap detik dan waktu mereka berlalu menambahkan usiaku. Para sahabatku sudah menggendong anak dan berkasih cinta dengan suatu keberkahan yang luar biasa, sedangkan aku? Aku selalu menambah dosa dengan berbagai macam hal dan perkara.

Tak ada warna lampu lain selain warna merah. Empat tahun hanya berhenti untuk menunggu lampu hijau menyala. Menunggu sebuah kepastian yang tak kunjung kudapati sampai aku merasa cukup lelah dengan keadaan ini. Demi cinta, aku tak ingin tubuhku disentuh oleh siapapun termasuk dia!!! Seorang yang telah menikahiku. Setelah acara ijab qobul selesai semua para tamu undangan dan keluarga meninggalkanku. Ya Allah apakah aku mampu menjalani ini? Laki – laki ini memang terlihat sangat sederhana.

Nampak dari tempat tinggal dan segala isi yang tak terlihat tanda kemewahan. Dia juga bukan pria yang tampan yang selalu tampil bersih dan wangi, namun dia adalah makhluk Allah yang semprna tanpa cacat tubuhnya. Iya.. benar memang selama ini aku tidak begitu mencintai kekayaan dan ketampanan dalam mencari pasangan. Karena ku tahu harta dan rupa bisa hilang kapan saja diterpa waktu dan keadaan. Dalam setiap untai doa, aku selalu meminta sebuah permohonan kepada Tuhanku. Agar aku dijodohkan oleh lelaki yang dekat dengan-Nya. Sosok yang mau membawaku semakin dekat dengan-Nya. Seorang yag mampu memuliakan dan mempertcantik kepribadianku. Seorang lelaki sholeh yang bertakwa kepada Allah Maha Pengasih lagi Maha penyayang.

Beruntunglah aku ditemani oleh seorang ibu yang sudah lanjut usia bernama bu Aminah. Dengan tubuh yang sudah mulai membungkuk, beliau penuh kasih sayang membantu dan menyayangiku ketika orang terdekat pergi meninggalkan aku. Malam itu setelah usai pernikahan aku segera pergi menuju kamar ibu Aminah.

 “ Tok.. tok.. tok.. assalamu’alaikum” aku mengetuk pintu kamar bu Aminah.

 “ wa’alaikumsalam” ibu Aminah menjawab salam lantas membuka pintu untukku.

 “ Maaf ibu saya mengganggu istirahat ibu..” “ Owalah neng cantik, silahkan masuk kekamar ibu, tapi maaf ya kamar ibu jelek dan berantakan.” Ibu Aminah segera menggandeng tanganku dan mengajakku duduk disebuah kursi bambu.

 “ ibu, saya takut disini, boleh saya tidur bersama ibu untuk beberapa waktu?” suaraku lirih, aku tertunduk lesu.

 “ Hehehe, kenapa kamu takut tidur dengan suamimu?” bu Aminah menggodaku.

 “ iya buk, saya belum siap dan masih malu.”

 “ Tidak apa - apa, nanti biar ibu memberikan pengertian untuk suamimu. Ibu maklum kok pengantin baru masih malu – malu.

” Ibu Aminah membelai kerudungku dengan lembutnya.

 “ Terimakasih banyak ya bu..” Aku hanya menelan lidahku. Ibu Aminah belum mengerti perasaanku. Setidaknya aku cukup tenang karena aku tidak tidur satu keranjang bersama seorang yang tak ku kenal.

 “ ya sudah buk, Nita mau permisi sholat dulu.”

 “ monggo neng”

Dadaku sudah penuh dengan isi, inginku tumpahkan seluruh isi ini sebab aku tak sanggup menahannya. Segera ku ambil air wudhu, berharap kepenatan dan beban ini hanyut larut oleh air yang mengalir dari kulit kepala hingga ujung kakiku. Segera kutunaikan sholat yang sudah menjadi kewajibanku.

“ Ya Allahku, kemana saja diriku pergi sampai aku tidak paham dengan ta’aruf yang menghasilkan pernikahan ini. Apa benar aku telah menjawab mau? Bagaimana aku bisa mempertanggung jawabkan ini Ya Allah jika aku sendiri tidak mampu. Ya Allah, hatiku terasa gundah membiarkan cintaku terhadap Zidan hilang begitu saja. aku mencintai Zidan Ya Allah tapi sekarang aku telah menjadi istri orang lain. Ampunilah aku Ya Allah telah berbuat dosa besar.” Air mataku mengalir begitu derasnya, tanpa tersadar aku menangis sesenggukan dan suamikupun melihatnya.

 Segera kuhapus air mataku, aku tak ingin ia melihatnya. Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya, sebab ia selalu melihat perbuatanku lantas tersenyum seolah ia bahagia. Hari pertama berpisah dari keluarga yang kucinta, aku tidak mampu memejamkan mata meski waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Tubuh terasa amat lelah, matapun begitu kering karena terlalu banyak menangis. Keadaan ini sunggh menguras tenagaku, sebaiknya ku tunaikan sholat hajat untuk meringankan beban dan pikiran yang memenuhi isi kepalaku.

Segeraku beranjak dari ranjang berselambu putih. Ketika aku berjalan menuju dapur aku melihat sebuah pemandangan. Samiku tengah tidur seorang diri dikamar pengantin yang kulihat cukup bersih dengan corak bunga berwarna merah hati. Dia tertidur pulas beralas tangan, miring sebelah kanan tanpa selimut, tanpa aku yang seharusnya ada. Setan membisikkan ku sebuah kelicikan besar. Ia berberkata kepadaku,

“Setelah ini kamu harus menceraikan suamimu dan kamu kembali kepada Zidanu. Apa kamu rela jika lelaki asing itu menjamah tubuhmu?” Setan berhasil menghasutku, aku akan membuat lelaki itu membenciku. Lantas ia akan pergi meninggalakanku.

Waktu terus berjalan namun aku masih menunjukkan sifat angkuh dan diam diri terhadap suamiku.Bahkan dalam waktu yang cukup lama aku belum pernah bercengkerama dengan dia. Namun aku tetap mengurus semua keperluan rumah tangga mulai dari memasak, membersihkan seluruh ruangan rumah dan mencuci pakaiannya. Aku sungkan kepada bu Aminah yang sudah berbaik hati kepadaku. Suamiku sepeti memahamiku, dia memaklumi keadaanku.

Yang ku takutkan dia terlalu sabar menghadapiku. Dia sama sekali tidak pernah mengeluh atau marah sedikitpun meskipun sikapku yang sangat acuh dan tak memperdulikannya. Justru yang ku temui adalah senyuman manis dan tulus yang tak pernah berubah dari pertama kita bertemu. Tetap saja hati mengeras dan kaku. Zidan masih berada dalam hati dan pikiranku. Semua sikap baik yang ditunjukkan suamiku tak mengurangi ata merubah perasaanku terhadap Zidan. Meskipun sebenarnya hatiku sangat kalut dan menderita bahwa aku tidak bisa menghubungi Zidan.

Adzan subuh menggema, ku tersungkur disajadah mahar dari suamiku. Ketika ku bersujud pada rakaat terakhir, aku mendengar suara teriakan ibu Aminah. Beliau menyebut namaku dan memecahkan suasana sepi nan sunyi.

" Neenggg..!! neng Nita.. tolong suamimu neng…!!!” Ibu Aminah berteriak dan menangis sekencang kencangnya. Ibu Aminah berteriak bahwa suamiku sedang mengalami sakratul maut yang indah. Keningnya penuh dengan keringat, tubuhnya sudah mulai dingin dan pucat. Lantas banyak orang berhamburan datang untuk melihat keadaan suamiku.

Tersentak dan sesak, dadaku bergetar sengat keras mendengar berita ini, segera aku berlari menemui sosok suami yang kuacuhkan. Dia sedang terkulai dipangkuan seorang ibu, bibirnya bergeming penuh dengan doa dan lantunan ayat – ayat suci. Serasa terkunci, mulutku bungkam tak mampu berbicara sepatah katapun. Hanya nafasku yang tersendat dan koyakan didada terasa sakit mencekik hatiku. Kudengar dari pembicaraan orang – orang yang datang, lelaki asing itu adalah sosok yang baik dan berakhlak mulia.

Diantara mereka ada yang sengaja datang untuk membawa berita gembira bahwa dia mendapatkan beasiswa kuliah dan mendapat pekerjaan yang cukup mapan. Mereka terlihat sangat bersedih dan duka melihat keadaan suamiku yang lemah. Otakku merekam ulang setiap kejadian. Kuingat kembali para saksi dan orang tuaku ketika kami menikah. Kuingat kembali senyumannya yang manis dan indah, dia yang tak pernah murka dan mengeluh sekalipun aku tak bisa memenuhi kebutuhannya sebagai seorang istri.

Aku berlari sekencang – kencangnya mengambil buku hijau Yaasiin yang selalu setia menemaniku ketika hati dirundung galau dan juga rindu, Dengan rasa sesal ku berdoa didalam hatiku. “Maafkan aku suamiku, aku bukanlah istri yang baik untukmu. Selama ini aku tak pernah memberikan sesuatu yang indah untukmu. Ijinkan aku bersenandung yaasiin dihadapanmu, dihadapan semua orang yang hadir memohonkan doa untukmu. Hanya lantunan ayat dan doa ini yang bisa kupersembahkan bagimu.”

Bak seorang anak manusia yang bangkit dari alam tidurnya. Suamiku bangun dengan keadaan tenang dan damainya. Aku menangis sejadi – jadinya. Untuk yang pertama kalinya aku mengusap tubuh dan memegang kulitnya. Suamiku hanya tersenyum menatapku, baru aku menyadari ada seorang yang begitu tulus ingin mengambil hati jiwa dan ragaku. Dialah lelaki asing itu.

Allah menegurku lewat kejadian itu, dan aku diberikan kesempatan untuk merubah sikapku dengan memuliakan suamiku. Sampai suamiku mulai bersua, dia menceritkan kepada semua orang tentang kebaikanku yang pandai dan rajin mengurus semua urusan rumah tangga, lagi taat beribadah. Serasa lemas dan tak berdaya dia memujiku dengan sangat berlebihan menutupi segala kekuranganku. Istri macam apa aku ini??? Hatiku semakin sakit dadaku terasa sempit. Air mata ingin tertumpah namun tertahan sesakan didada. Betapa indahnya lelaki ini. Lagi - lagi dia menatapku dengan mata teduh dan senyuman terindahnya, membuat hatiku trenyuh dan terasa syahdu.

“ Allahu Akbar Allahu Akbar… laailahailallaah..” Adzan subuh menyentakkan ku.. Ya Rabby ternyata semua hanyalah mimpi. Tanpa tersadar air mataku meleleh. Mimpi yang penuh dengan hikmah namun getaran dada ini masih sangat terasa kekuatannya.

Ya Allah karuniakanlah kepada hamba suami anak keturunan , dan keluarga kami sebagai penyenang hati dan imam bagi orang yang bertakwa. Hadirkanlah kepada hamba seorang jodoh dunia dan akhirat yang membimbing hamba dan para keturunan hamba menuju ke surga ya Allah. Aamiin Segera ku bergegas mengambil air wudhu, bersyukur kepada Allah atas diberinya mimpi yang penh hikmah. Mudah – mudahan kelak aku bisa menjadi istri sholehah.. aamiin


Salatiga, 18 January 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar